Rabu, 03 April 2013



1. HIPONIMI dan HIPERNIMI

1.1 Hiponimi (hiponim) dan Hipernimi (hipernim)

Kata Hiponimi berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu onoma berati  ‘nama ‘  dan hypo berati’ di bawah ‘. Jadi hiponimi ‘nama yang termasuk di bawah nama lain ‘. Verhaar ( 1978: 137 ) menyatakan hiponim ialah  ungkapan ( biasanya berupa kata, tetapi kiranya dapat juga frase atau kalimat ) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan lain. Umpamanya kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan sebab makna tongkol berada atau termasuk dalam makna kata ikan. Tongkol memang ikan tetapi ikan bukan hanya tongkol melainkan juga termasuk bandeng, tenggiri, teri, mujair, cakalang, dan sebagainya.

Kalau relasi antara dua buah kata yang bersinonim atau berantonim dan berhomonim bersifat dua arah maka relasi antara dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah. Jadi, kata tongkol berhiponim terhadap kata ikan; tetapi kata ikan tidak berhiponim terhadap kata tongkol, sebab makna ikan meliputi seluruh jenis ikan. Dalam hal ini relasi antara ikan dengan tongkol ( atau jenis ikan lainnya ) disebut hipernimi.  Jadi, kalau tongkol berhiponim terhadap ikan maka ikan berhipenim terhadap tongkol.

Contoh lain, kata bemo dan kendaraan. Kata bemo berhiponim terhdap kata kendaraan, sebab bemo adalah salah satu jenis kendaraan. Sebaliknya kata kendaraan berhipernim terhadap kata bemo sebab kata kendaraan meliputi makna bemo di samping jenis kendaraan lain ( seperti becak, sepeda, kereta api, dan bus )

- Hipernim : Hantu
- Hiponim : Pocong, kantong wewe, sundel bolong, kuntilanak, pastur buntung, tuyul, genderuwo, suster ngesot, dan lain-lain.

- Hipernim : Ikan
- Hiponim : Lumba-lumba, tenggiri, hiu, betok, mujaer, sepat, cere, gapih singapur, teri, sarden, pari, mas, nila, dan sebagainya.

- Hipernim : Odol
- Hiponim : Pepsodent, ciptadent, siwak f, kodomo, smile up, close up, maxam, formula, sensodyne, dll.

- Hipernim : Kue
- Hiponim : Bolu, apem, nastar nenas, biskuit, bika ambon, serabi, tete, cucur, lapis, bolu kukus, bronis, sus, dsb.

-Hipernimi : Bunga
-Hiponim : Melati, mawar,anggrek, dan kembang sepatu



Bagai mana dengan hubungan antara tongkol, bandeng, tenggiri, dan mujair yang sama – sama merupakan hiponim terhadap ikan?  Biasanya disebut dengan istilah kohiponim. Jadi, tongkol berkohiponim dengan tenggiri, dengan bandeng, dan dengan yang lainnya.

Dalam definisi Verhaar di atas ada disebutkan bahwa hiponim kirannya terdapat pulak dalam bentuk ferase dan kalimat. Tetapi kirannya sukar mencari contohnya dalam bahasa Indonesia karena juga hal ini lebih bayak menyangkut masalah logika dan bukan masalah linguistik. Lalu, oleh karena itu Verhaar (1978 : 137 ) masalah ini dapat dilewati saja, tidak perlu di persoalkan lagi.

Konsep hiponimi dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata lain,  akan menjadi hiponim terhadap kata lain yang hierarkial berada di atasnya.

Konsep hiponimi dan hipernimi mudah diterapkan pada kata benda tetapi agak sukar pada kata kerja dan kata sifat.

Disamping istilah hiponimi ada pula yang disebut meronimi. Kedua istilah ini mengadung hampir sama. Bedanya adalah: kalau hiponimi meyatakan adanya kata ( unsur leksikal ) yang maknanya berada di bawah makna kata lain, sedangkan meronimi meyatakan adanya kata ( unsur leksikal ) yang merupakan bagian dari kata lain. Jadi, kalau dalam hiponimi di katakan ‘ tenggiri adalah sejenis ikan ‘, maka dalam meronimi dikatakan ‘ kepala adalah bagian dari tubuh ‘. Contoh lain ‘ roda bagian dari kendaraan ‘ dan ‘ kamar ‘ adalah bagian dari rumah ‘.

Simpulan
1.  Relasi antara penggolongan atau hipernim dengan hiponim-hiponimnya adalah relasI yang  bersifat atas bawah atau   searah.
2.  Hiponimi mengandung hubungan logis  pada entailment, artinya kalau kita sudah mengatakan hiponimnya maka kita dapat membayangkan nama kelompoknya, dan kalau kita sudah menyebut nama kelompoknya, maka kita dapat menyebutkan hiponimnya.
3. Masalah hiponim dan hipernim sebenarnya tidak lain dari usaha untuk membuat klasifikasi terhadap konsep akan adanya kelas-kelas generik dan spesifik.
4.  Bentuk ujaran yang secara semantik menyatakan generik ada kemungkinan menjadi sebuah bentuk ujaran spesifik, dan bentuk ujaran yang spesifik dapat juga menjadi bentuk generik dalam tataran yang lebih luas lagi.
5.  Ciri-ciri semantik yang ada pada hipernim atau penggolongnya juga dilmiliki oleh hiponim-hiponimnya.
6.  Relasi antara hiponim-hiponim dapat disebut kohiponim karena hiponim memiliki semua ciri semantik dari hipernim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar