1. HIPONIMI dan HIPERNIMI
1.1 Hiponimi (hiponim) dan Hipernimi
(hipernim)
Kata Hiponimi
berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu onoma berati ‘nama ‘
dan hypo berati’ di bawah ‘. Jadi hiponimi ‘nama yang termasuk di bawah
nama lain ‘. Verhaar ( 1978: 137 ) menyatakan hiponim ialah ungkapan ( biasanya berupa kata, tetapi
kiranya dapat juga frase atau kalimat ) yang maknanya dianggap merupakan bagian
dari makna suatu ungkapan lain. Umpamanya kata tongkol adalah hiponim terhadap
kata ikan sebab makna tongkol berada atau termasuk dalam makna kata ikan.
Tongkol memang ikan tetapi ikan bukan hanya tongkol melainkan juga termasuk
bandeng, tenggiri, teri, mujair, cakalang, dan sebagainya.
Kalau relasi
antara dua buah kata yang bersinonim atau berantonim dan berhomonim bersifat
dua arah maka relasi antara dua buah kata yang berhiponim ini adalah searah.
Jadi, kata tongkol berhiponim terhadap kata ikan; tetapi kata ikan tidak
berhiponim terhadap kata tongkol, sebab makna ikan meliputi seluruh jenis ikan.
Dalam hal ini relasi antara ikan dengan tongkol ( atau jenis ikan lainnya )
disebut hipernimi. Jadi, kalau tongkol
berhiponim terhadap ikan maka ikan berhipenim terhadap tongkol.
Contoh lain,
kata bemo dan kendaraan. Kata bemo berhiponim terhdap kata kendaraan, sebab
bemo adalah salah satu jenis kendaraan. Sebaliknya kata kendaraan berhipernim
terhadap kata bemo sebab kata kendaraan meliputi makna bemo di samping jenis
kendaraan lain ( seperti becak, sepeda, kereta api, dan bus )
-
Hipernim : Hantu
-
Hiponim : Pocong, kantong wewe, sundel bolong, kuntilanak, pastur buntung,
tuyul, genderuwo, suster ngesot, dan lain-lain.
-
Hipernim : Ikan
-
Hiponim : Lumba-lumba, tenggiri, hiu, betok, mujaer, sepat, cere, gapih
singapur, teri, sarden, pari, mas, nila, dan sebagainya.
-
Hipernim : Odol
-
Hiponim : Pepsodent, ciptadent, siwak f, kodomo, smile up, close up, maxam,
formula, sensodyne, dll.
-
Hipernim : Kue
-
Hiponim : Bolu, apem, nastar nenas, biskuit, bika ambon, serabi, tete, cucur,
lapis, bolu kukus, bronis, sus, dsb.
-Hipernimi
: Bunga
-Hiponim
: Melati, mawar,anggrek, dan kembang sepatu
Bagai mana
dengan hubungan antara tongkol, bandeng, tenggiri, dan mujair yang sama – sama
merupakan hiponim terhadap ikan?
Biasanya disebut dengan istilah kohiponim. Jadi, tongkol berkohiponim
dengan tenggiri, dengan bandeng, dan dengan yang lainnya.
Dalam definisi
Verhaar di atas ada disebutkan bahwa hiponim kirannya terdapat pulak dalam
bentuk ferase dan kalimat. Tetapi kirannya sukar mencari contohnya dalam bahasa
Indonesia karena juga hal ini lebih bayak menyangkut masalah logika dan bukan
masalah linguistik. Lalu, oleh karena itu Verhaar (1978 : 137 ) masalah ini
dapat dilewati saja, tidak perlu di persoalkan lagi.
Konsep hiponimi
dan hipernimi mengandaikan adanya kelas bawahan dan kelas atasan, adanya makna
sebuah kata yang berada di bawah makna kata lainnya. Karena itu, ada
kemungkinan sebuah kata yang merupakan hipernimi terhadap sejumlah kata
lain, akan menjadi hiponim terhadap kata
lain yang hierarkial berada di atasnya.
Konsep hiponimi
dan hipernimi mudah diterapkan pada kata benda tetapi agak sukar pada kata
kerja dan kata sifat.
Disamping
istilah hiponimi ada pula yang disebut meronimi. Kedua istilah ini mengadung
hampir sama. Bedanya adalah: kalau hiponimi meyatakan adanya kata ( unsur
leksikal ) yang maknanya berada di bawah makna kata lain, sedangkan meronimi
meyatakan adanya kata ( unsur leksikal ) yang merupakan bagian dari kata lain.
Jadi, kalau dalam hiponimi di katakan ‘ tenggiri adalah sejenis ikan ‘, maka
dalam meronimi dikatakan ‘ kepala adalah bagian dari tubuh ‘. Contoh lain ‘
roda bagian dari kendaraan ‘ dan ‘ kamar ‘ adalah bagian dari rumah ‘.
Simpulan
1. Relasi antara penggolongan atau hipernim
dengan hiponim-hiponimnya adalah relasI yang bersifat atas bawah atau searah.
2. Hiponimi mengandung hubungan logis pada entailment, artinya kalau kita sudah
mengatakan hiponimnya maka kita dapat membayangkan nama kelompoknya, dan kalau
kita sudah menyebut nama kelompoknya, maka kita dapat menyebutkan hiponimnya.
3.
Masalah hiponim dan hipernim sebenarnya tidak lain dari usaha untuk membuat
klasifikasi terhadap konsep akan adanya kelas-kelas generik dan spesifik.
4. Bentuk ujaran yang secara semantik menyatakan
generik ada kemungkinan menjadi sebuah bentuk ujaran spesifik, dan bentuk
ujaran yang spesifik dapat juga menjadi bentuk generik dalam tataran yang lebih
luas lagi.
5. Ciri-ciri semantik yang ada pada hipernim
atau penggolongnya juga dilmiliki oleh hiponim-hiponimnya.
6. Relasi antara hiponim-hiponim dapat disebut
kohiponim karena hiponim memiliki semua ciri semantik dari hipernim.